Dalam politik dan bisnis, menjadi orang baik saja tidak akan cukup. Jika Anda tidak bisa membaca permainan, maka Anda yang akan dimainkan. Hancurkan keluguan Anda sekarang.
Pernahkah Anda merasa sudah melakukan hal yang benar, bekerja jujur, namun langkah Anda selalu dipotong oleh mereka yang pandai memanipulasi keadaan?
Di dunia kekuasaan, politik bukan sekadar tentang siapa yang benar. Tapi tentang siapa yang memahami permainan. Kalau Anda hanya tahu mana yang benar tapi tidak tahu cara bermain, kompetitor akan selalu menang.
Anda punya dua pilihan: membaca permainan, atau menjadi permainan orang lain. Jangan sampai Anda mengira sedang mengambil keputusan, padahal keputusan Anda sedang didikte oleh orang lain.
Siapa bilang orang beriman harus polos? Kesalehan sejati justru menuntut kita untuk cerdas membaca tipu daya, memiliki taring, dan tidak membiarkan nilai kebenaran diinjak-injak oleh kelicikan.
Selama ini, kita hanya diajarkan tentang kesabaran beliau ketika dimasukkan ke sumur dan penjara, keteguhannya ketika menghadapi godaan wanita, dan keahliannya dalam tafsir mimpi. Tapi, siapa yang mengajarkan sisi strategisnya?
Faktanya, kisah Nabi Yusuf menyimpan rahasia operasi intelijen, lobi tingkat tinggi, dan manuver akuisisi kekuasaan yang luar biasa brilian.
Nabi Yusuf dengan tegas meminta jabatan Menteri Keuangan ("Jadikanlah aku bendaharawan negara..."). Kenapa? Karena jika orang baik menjauhi kekuasaan, maka sistem akan dikendalikan oleh para koruptor. Mengambil alih kekuasaan demi kebaikan BUKANLAH cinta dunia, melainkan kewajiban strategis.
Dilengkapi kutipan dari kitab-kitab Turats (klasik) karya pemikir Islam kaliber berat seperti Al-Mawardi, Ibnu Taimiyyah, Al-Ghazali, dan Ibnu Khaldun.
Bagaimana Nabi Yusuf menyembunyikan niat, melancarkan operasi senyap, false flag, dan perang psikologis untuk mengunci ruang gerak musuh tanpa melanggar syariat.
Legitimasi untuk masuk ke dalam sistem yang korup demi meminimalisir kerusakan (taqlil mafasid) dan meretas kekuasaan dari dalam.
Membongkar doktrin Al-Ghazali tentang pentingnya "Besi dan Pedang" saat diplomasi "Mushaf" berhadapan dengan oligarki yang bebal.
Belajar dari deklarasi "Inni Hafizhun 'Alim". Mengapa politisi/profesional muslim wajib berani menuntut jabatan jika kapasitasnya mumpuni.
Memahami hadits "Tidak tersengat dari lubang yang sama". Panduan membangun memori sejarah dan meredam keluguan berpolitik.
Disertai landasan dalil dan kutipan tajam dari kitab Muqaddimah, Al-Ahkam As-Sultaniyyah, Ihya Ulumiddin dan Majmu' Al-Fatawa.
Seorang pemikir, penulis independen, dan pengkaji siyasah syar'iyyah. Tulisannya membedah anatomi kekuasaan menggunakan pisau analisis realpolitik klasik tanpa sugarcoating.
"Beriman tidak sama dengan mematikan akal sehat dan menyerahkan leher kepada para penindas."
Investasikan sedikit waktu Anda untuk menguasai 32 strategi ini sebelum harga kembali normal.
HARGA AKAN NAIK DALAM:
Dapatkan Free Sample (Beberapa Bab Pendahuluan) secara gratis langsung ke WhatsApp Anda untuk memastikan kualitas materi di dalam buku ini.
Minta Free Sample100% Gratis. Tanpa syarat tersembunyi.